DPP Pengajian Al-Hidayah Dorong Perempuan Perkuat Keluarga di Era Digital

waktu baca 4 menit
Rabu, 9 Sep 2026 13:25 29 MSA

JAKARTA, DEWAN.ID – DPP Pengajian Al-Hidayah menekankan pentingnya penguatan peran perempuan dan keluarga di tengah perkembangan teknologi serta derasnya arus informasi.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar DPP Pengajian Al-Hidayah di Ballroom Lantai II Grha DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk Menguatkan Keluarga, Umat, dan Persatuan Bangsa,” kegiatan tersebut dihadiri sekitar 250 peserta secara langsung. Sementara pengurus DPD Pengajian Al-Hidayah tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta masyarakat umum mengikuti secara daring melalui Zoom dan YouTube.

Hetifah: Perempuan Punya Peran Strategis

Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah, Hetifah Sjaifudian, mengatakan perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan keluarga.

Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama untuk membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.

“Peradaban dimulai dari manusia yang berkarakter, keluarga yang kuat, masyarakat yang saling menghormati, dan persaudaraan yang kokoh,” kata Hetifah.

Ia menilai tantangan keluarga semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi.

Karena itu, perempuan perlu memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi secara positif tanpa meninggalkan nilai moral dan keagamaan.

Hetifah mengatakan DPP Pengajian Al-Hidayah memiliki posisi strategis untuk mendorong peningkatan kapasitas perempuan agar mampu menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Napsiyah: Akhlak Rasulullah Harus Dihidupkan

Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi DPP Pengajian Al-Hidayah, Napsiyah Arifuzzaman, mengatakan peringatan Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, akhlak Rasulullah perlu diterapkan mulai dari lingkungan keluarga hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Melalui peringatan Maulid Nabi ini, kita ingin membawa akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Napsiyah.

Ia berharap semangat memperbanyak shalawat dan amal kebaikan dapat mendorong lahirnya keluarga yang lebih kuat serta masyarakat yang memiliki kepedulian dan semangat persatuan.

Hasani: Keteladanan Rasulullah Dimulai dari Rumah

Penceramah sekaligus Guru Besar UIN Jakarta, Hasani Ahmad Said, mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi umat Islam.

Menurut Hasani, keteladanan Rasulullah tidak hanya tercermin melalui ucapan, tetapi juga perbuatan, sifat, dan ketetapan beliau.

Ia menekankan bahwa keluarga menjadi salah satu ruang penting untuk menerapkan keteladanan tersebut.

Hasani mengutip sabda Rasulullah SAW mengenai pentingnya memberikan perlakuan terbaik kepada keluarga.

“Sebaik-baik kalian adalah ketika berbuat yang terbaik kepada keluargamu,” kata Hasani mengutip sabda Rasulullah SAW.

Menurutnya, keteladanan dalam keluarga juga mencakup kemampuan mengendalikan emosi. Ia mengingatkan umat agar tidak mudah marah karena kemampuan menahan amarah merupakan bagian dari pengendalian diri.

“Jangan engkau jadi orang pemarah. Karena di balik itu, kalau kita bisa menahan amarah, di situ ada surga,” tuturnya.

Hasani juga menekankan tanggung jawab seorang suami dalam kehidupan rumah tangga, termasuk membantu pekerjaan rumah dan mengurus anak.

Sarmuji: Keteladanan Bisa Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji, mengatakan keteladanan Rasulullah dapat diterapkan oleh setiap orang sesuai dengan perannya masing-masing.

Menurutnya, sisi kemanusiaan Rasulullah justru menjadi bagian yang dekat dan mudah diteladani umat.

“Rasulullah itu dari jenis kita sendiri. Jadi sisi kemanusiaannya itu yang justru bisa kita contoh,” ujar Sarmuji.

Ia menjelaskan, seorang suami dapat belajar dari Rasulullah dalam membangun keluarga. Sementara seorang pemimpin dapat meneladani kepemimpinan Rasulullah dan ulama dapat mengambil pelajaran dari peran Rasulullah dalam kehidupan keagamaan.

Sarmuji menilai keteladanan tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Adab sederhana seperti masuk rumah dengan kaki kanan, makan menggunakan tangan kanan, dan masuk kamar mandi dengan kaki kiri, menurutnya, merupakan contoh praktik keteladanan yang dapat dilakukan setiap hari.

Dari Keluarga Menuju Kepedulian Sosial

Hetifah menambahkan, penguatan keluarga perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap masyarakat.

DPP Pengajian Al-Hidayah, kata dia, tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga harus memberikan manfaat melalui berbagai kegiatan sosial.

Di antaranya kepedulian terhadap kaum dhuafa, perlindungan keluarga dan anak, pemberdayaan perempuan, serta penguatan ekonomi keluarga.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan latar belakang, organisasi, pilihan, dan pandangan.

“Al-Hidayah harus menjadi jembatan persaudaraan dan persatuan,” tegas Hetifah.

Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi DPP Pengajian Al-Hidayah diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi pengingat untuk membangun keluarga yang berakhlak, perempuan yang berdaya, masyarakat yang peduli, serta persatuan bangsa yang semakin kokoh (red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA