Adela Kanasya Adies: Kurikulum Kampus Harus Berubah Hadapi Dunia Kerja

waktu baca 4 menit
Senin, 19 Okt 2026 20:50 15 MSA

SURABAYA, DEWAN.ID – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, dr. Adela Kanasya Adies, M.Sc., menyoroti pentingnya pembaruan kurikulum perguruan tinggi agar lulusan tidak kesulitan menghadapi perubahan dunia kerja. Menurutnya, pendidikan tinggi perlu bergerak lebih adaptif karena perkembangan teknologi, otomatisasi, dan perubahan kebutuhan industri berlangsung lebih cepat daripada pembaruan materi pembelajaran.

Pesan tersebut disampaikan Adela ketika menjadi pembicara utama dalam Seminar Pendidikan Tinggi bertema “Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi dalam Mewujudkan Generasi Unggul, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan” di Surabaya, Senin (19/10/2026).

Adela menilai, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah mahasiswa yang berhasil lulus. Kampus juga perlu memastikan bahwa mahasiswa memiliki keterampilan, pengalaman, jejaring, dan kemampuan berpikir kritis yang relevan dengan tantangan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Dunia yang akan dihadapi mahasiswa hari ini berubah jauh lebih cepat daripada kurikulum yang kita ajarkan kepada mereka. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak anak Indonesia yang bisa kuliah, tetapi setelah mereka kuliah, apakah mereka siap menghadapi dunia yang baru?” ujar Adela.

Politisi muda Partai Golkar tersebut menegaskan, ijazah tetap memiliki arti penting, tetapi perlu disertai kompetensi yang dapat diterapkan dalam kehidupan profesional. Mahasiswa harus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, beradaptasi, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.

Adela Minta Kampus Bekali Mahasiswa Keterampilan Nyata

Adela mendorong perguruan tinggi mengevaluasi relevansi proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Menurutnya, mahasiswa membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman teori agar mampu menghadapi persoalan nyata setelah memasuki lingkungan profesional.

Penguatan keterampilan praktis, pengalaman lapangan, dan kemampuan berpikir kritis menjadi beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian. Mahasiswa juga perlu dibiasakan menganalisis persoalan, mengembangkan gagasan, dan mencari solusi yang dapat diterapkan.

Adela menilai perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, serta ekonomi digital dan ekonomi hijau turut mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan. Karena itu, kurikulum perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan tersebut sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perubahan.

“AI tidak akan menggantikan semua manusia. Tetapi manusia yang mampu menggunakan AI dengan baik akan memiliki keunggulan dibandingkan manusia yang tidak mau belajar menggunakannya,” tegasnya.

Meski demikian, Adela mengingatkan bahwa kompetensi teknologi harus tetap diimbangi integritas, empati, dan kemampuan berpikir mandiri. Pendidikan tinggi perlu membantu mahasiswa memahami teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan, bukan sebagai pengganti seluruh proses berpikir dan pertimbangan manusia.

Ia berharap kampus dapat membangun lingkungan pembelajaran yang mendorong mahasiswa terus belajar, berani mencoba hal baru, dan tidak terpaku pada pengetahuan yang diperoleh selama masa kuliah. Kemampuan beradaptasi tersebut dinilai penting agar lulusan tetap relevan ketika tuntutan pekerjaan mengalami perubahan.

Adela Dorong Pendidikan Tinggi Siapkan Generasi Pencipta Peluang

Selain pembaruan kurikulum, Adela mengajak mahasiswa mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi menciptakan peluang. Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu berkontribusi sebagai pencari kerja sekaligus wirausahawan, peneliti, inovator, dan teknopreneur.

Sebagai legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur I yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo, Adela melihat pentingnya menghubungkan kompetensi mahasiswa dengan potensi ekonomi daerah. Surabaya memiliki ekosistem pendidikan yang kuat, sementara Sidoarjo mempunyai basis industri dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dapat menjadi ruang pengembangan keterampilan dan penerapan gagasan.

Ia mendorong kampus membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti magang berbasis persoalan nyata, mengembangkan perusahaan rintisan, dan terlibat dalam kegiatan yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.

“Kampus punya knowledge, industri punya real problem, pemerintah punya policy, dan masyarakat punya kebutuhan. Kalau empat hal ini bertemu, di situlah inovasi terjadi,” katanya.

Menurut Adela, pendekatan tersebut dapat membantu mahasiswa memahami tantangan di luar ruang kelas dan mengembangkan kemampuan yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kolaborasi berbagai pihak juga berpotensi membuka ruang bagi lahirnya usaha dan inovasi baru.

Ia menegaskan, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai sejak sekarang melalui pembelajaran yang relevan, pengembangan keterampilan, penelitian, serta kebijakan pendidikan yang mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Untuk perguruan tinggi, jangan hanya mencetak lulusan. Cetaklah pemecah masalah. Dan untuk teman-teman mahasiswa, jangan hanya menunggu masa depan. Ciptakan masa depan itu mulai hari ini,” pungkas Adela.

Adela berharap perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga siap beradaptasi, mengembangkan gagasan, dan memberikan kontribusi nyata. Dengan pembaruan kurikulum serta penguatan keterampilan, generasi muda diharapkan memiliki bekal lebih baik untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan mengambil bagian dalam pembangunan nasional (RED)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA