MN FORHATI JAKARTA, DEWAN.ID – Forum HMI-Wati (FORHATI) Nasional mendorong pengelolaan sampah rumah tangga tidak hanya melalui edukasi, tetapi juga inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Upaya tersebut menjadi bagian dari Gerakan Hijau FORHATI yang berlangsung hingga Oktober 2026 dengan mengusung tema “Perempuan Bergerak, Aksi Nyata untuk Iklim Indonesia.”
Salah satu agenda yang dijalankan adalah Training of Trainers (TOT) Pengelolaan Sampah yang digelar secara hybrid pada Kamis (24/9/2026).
Selain pelatihan, FORHATI menyiapkan Business Plan Competition “Inovasi Pengolahan Sampah Rumah Tangga” sebagai ruang untuk mendorong lahirnya gagasan baru dalam pengelolaan limbah.
Koordinator Presidium FORHATI Nasional, Dra. Anita Ariyani, mengatakan Gerakan Hijau tidak dirancang hanya sebagai kampanye lingkungan.
Menurutnya, peningkatan pengetahuan perlu dilanjutkan dengan tindakan yang dapat diterapkan di lingkungan masyarakat.
“Gerakan Hijau FORHATI kami dorong sebagai gerakan yang tidak berhenti pada kampanye, tetapi dilanjutkan dengan pengetahuan dan aksi nyata. Melalui TOT ini, kami berharap peserta dapat menjadi penggerak di wilayah dan daerah masing-masing serta meneruskan edukasi pengelolaan sampah kepada keluarga, komunitas, dan masyarakat,” ujar Anita melalui keterangan resminya Kamis (24/09).
Pernyataan tersebut menjadi dasar pendekatan FORHATI dalam menggabungkan edukasi, pengembangan gagasan, dan kegiatan lingkungan secara langsung.
Sampah rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang dapat ditangani sejak dari sumbernya. Melalui Business Plan Competition, FORHATI membuka ruang bagi peserta untuk mengembangkan gagasan mengenai cara mengolah sampah rumah tangga secara lebih inovatif.
Konsep kompetisi tersebut memberikan pendekatan berbeda dari sekadar edukasi, karena peserta didorong memikirkan gagasan yang dapat diterapkan sekaligus dikembangkan secara berkelanjutan.
Inovasi pengolahan sampah juga dapat mencakup pemanfaatan kembali material, pengurangan sampah, hingga pengembangan sistem pengelolaan yang lebih efektif.
Sebelum masuk pada pengembangan inovasi, peserta Gerakan Hijau FORHATI mendapatkan pembekalan mengenai dasar-dasar pengelolaan sampah.
Dosen IPB Dr. Meti Ekayani, S.Hut., M.Sc., IPM., menyampaikan materi “Pilah-Pilih Sampah: Langkah Awal Menuju Daur Ulang dan Ekonomi Sirkular.”
Praktisi lingkungan Oki Pulungan membawakan materi “Pilah, Olah, Manfaatkan: Aksi Nyata Mengelola Limbah Rumah Tangga.”
Sementara TA Utama BRIN Andi Irman, M.M., menyampaikan materi “Dari Plastik Bekas Menjadi Bernilai: Membangun Rantai Daur Ulang Plastik.”
Ketiga materi tersebut memberikan perspektif mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan dan daur ulang sampah.
Rangkaian kegiatan FORHATI memperlihatkan pendekatan yang menghubungkan pengetahuan dengan pengembangan gagasan.
TOT menjadi ruang bagi peserta untuk memahami persoalan dan teknik pengelolaan sampah. Sementara Business Plan Competition memberikan ruang untuk mengembangkan ide berdasarkan pengetahuan tersebut.
Dengan pola tersebut, peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai lingkungan, tetapi juga didorong untuk memikirkan bentuk penerapan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Pendekatan ini dapat membuka ruang bagi munculnya berbagai model pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pengelolaan sampah plastik juga menjadi salah satu materi khusus dalam TOT. Andi Irman membahas bagaimana plastik bekas dapat dimanfaatkan melalui pembangunan rantai daur ulang.
Pembahasan tersebut memberikan perspektif mengenai pentingnya mengelola plastik sejak tahap pemilahan hingga proses pemanfaatan kembali.
Sementara materi Meti Ekayani mengenai ekonomi sirkular memberikan konteks lebih luas mengenai upaya mempertahankan nilai suatu material agar tidak langsung berakhir sebagai sampah.
FORHATI tidak hanya menyiapkan kegiatan yang bersifat edukatif dan kompetitif. Rangkaian Gerakan Hijau hingga Oktober 2026 juga mencakup podcast dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda serta aksi penanaman mangrove.
Berbagai kegiatan tersebut menggunakan pendekatan berbeda untuk mengajak masyarakat terlibat dalam isu lingkungan.
Podcast menjadi ruang komunikasi publik, kompetisi menjadi ruang inovasi, sementara penanaman mangrove menjadi bentuk aksi langsung di lapangan.
Gerakan Hijau FORHATI melibatkan FORHATI Nasional, FORHATI Wilayah, dan FORHATI Daerah dari berbagai wilayah Indonesia. Organisasi perempuan dan masyarakat umum juga mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.
Keterlibatan lintas kelompok tersebut diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengelolaan lingkungan. Generasi muda juga menjadi bagian dari kelompok yang diajak mengambil peran dalam rangkaian kegiatan.
Melalui kombinasi pelatihan, kompetisi, diskusi, dan aksi lapangan, FORHATI mendorong agar persoalan sampah tidak hanya dibicarakan dari sisi dampak lingkungan.
Pengembangan inovasi menjadi salah satu cara untuk mencari pendekatan yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Gerakan Hijau FORHATI hingga Oktober 2026 menjadi rangkaian kegiatan yang mempertemukan edukasi, inovasi, dan aksi lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, FORHATI berharap semakin banyak masyarakat memiliki pengetahuan dan ruang untuk berkontribusi dalam pengelolaan sampah serta menjaga lingkungan secara berkelanjutan (red)
Tidak ada komentar